Selasa, 14 Maret 2017

Review Grave of the Fireflies (1988)



Grave of the Fireflies (1988)

Nama lain : Hotaru No Haka
Sutradara : Isao Takahata
Produser : Toru Hara
Based on : Grave of the Fireflies dari Akiyuki Nosaka
Cast : Tsutomu Tatsumi, Ayano Shiraisi, Yoshiko Sinohara, Akemi Yamaguchi
Musik : Michio Mamiya
Sinematografi : Nobuo Koyama
Diproduksi : Studio Ghibli
Durasi : 89 menit
Rate by me : 8,8 dari 10

Rabu, 01 Maret 2017

Review Only Yesterday (1991)




Only Yesterday

Sutradara : Isao Takahata
Produser : Toshio Suzuki
Penulis : Isao Takahata
Berdadarkan : Omoide Poro-Poro karya Hotaru Okamoto dan Yuko Tone
Cast : Miki Imai, Toshiro Yanagiba, Yoko Honna
Musik : Katz Hoshi
Sinematografi : Hisao Shiraisi
Produksi : Studio Ghibli
Tanggal rilis : 20 Juli 1991
Durasi : 118 menit


Terkadang kita berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang adalah buah dari pemikiran masa lalu. Pada situasi yang lebih pelik lagi, beberapa dari kita bahkan berpikir : Ah, lebih enak ketika menjadi kanak-kanak saja ketimbang harus menjalani kehidupan di usia dewasa yang begitu monoton. Kurang lebih, benang merah itulah yang coba saya tangkap dari film Studio Ghibli karya Isao Takahata yang berjudul Only Yesterday (1991). Film yang diadaptasi dari manga Omoide Poro-Poro karya Hotaro Okamoto dan Yuko Tone ini memang menawarkan sesuatu yang lain dari biasanya untuk kelas production house animasi kenamaan-Ghibli. Kalau biasanya kita disuguhkan film-film ajaib yang penuh dengan dunia khayal beserta tokoh-tokohnya, maka kali ini tidak untuk Only Yesterday. Film ini murni tentang pencarian makna hidup. Sebuah drama realis, cakupan umur dewasa.

Selasa, 21 Februari 2017

Review Always aka Only You (2011)


Keterangan :

Director : Song Il Gon
Duration : 108 minutes
Genre : Drama
Stars : So Ji Sub, Han Hyo Joo
Rate by me : 9,5/10



Sinopsis :

Jang Cheol Min (So Ji Sub) adalah pekerja serabutan yang menggantungkan hidup dari menjadi petinju, tukang angkat galon, sampai yang terakhir adalah menggantikan kakek penjaga parkir yang pensiun dari pekerjaannya. Tak disangka di pos parkir sang kakek (yang kini menjadi area kerja Cheol Min), setiap harinya didatangi gadis buta bernama Jung Hwa yang selalu menumpang nonton drama selepas bekerja sebagai telemarketing. Mulanya Jung Hwa tidak meyadari posisi kakek sudah digantikan Cheol Min, tapi setelah tahu, ia berusaha bersikap manis misalnya dengan memberikan bekalnya pada Cheol Min supaya tetap diijinkan menonton drama kesayangannya. 

Hari demi hari menjadikan keduanya semakin akrab. Jung Hwa menyapa Cheol Min dengan sebutan paman dan penasaran bagaimana raut mukanya. Namun Cheol Min tetap saja bersikap pasif, cenderung malu-malu dengan tetap menjadi sosok yang misterius dan tidak banyak cakap. Suatu ketika, sepulang dari pos Cheol Min, Jung Hwa jatuh karena kaget mendengar bunyi klakson mobil yang lewat di belakangnya. Alhasil kakinya terluka karena terkena pecahan botol-botol minuman yang ada di depan sebuah toko. Karena melihat Jung Hwa dimarahi satpam, Cheol Min pun bertindak. Dengan sikap ksatria, ia mencoba menawarkan bantuan, bahkan sampai mengantarkan Jung Hwa pulang ke rumah naik kereta--walau harus menggendongnya di atas jalanan yang beranak tangga. Sebagai ucapan terima kasih, Jung Hwa mengajaknya melihat konser musik dan ngedate layaknya orang yang berpasangan. Cheol Min sebenarnya mulai memiliki ketertarikan pada Jung Hwa meski cenderung gengsi dan malah menampik perasaannya ketika diajak Jung Hwa berhubungan lebih intim. Cheol Min berpikir masa depannya saja tidak jelas, bagaimana bisa ia memiliki hubungan dengan seorang gadis. Karena merasa ditolak, Jung Hwa pun sedikit patah hati lalu keesokan harinya enggan mampir ke pos Cheol Min. Jung Hwa seperti ingin menghindari Cheol Min, sampai akhirnya pada suatu malam ada kejadian tragis yang membuat Jung Hwa benar-benar membutuhkan seorang pelindung seperti Cheol Min. Keselamatannya terancam karena ulah Bossnya yang mendadak ke rumah dan ingin melakukan percobaan perkosaan. Untung saja Cheol Min datang di waktu yang tepat hingga akhirnya ia sadar, bahwa Jung Hwa adalah wanita yang sangat penting untuk dirinya.



Rabu, 14 Desember 2016

Review The Cat Returns (2002)



Adegan dibuka dengan latar sebuah toko yang di dalamnya terdapat sebuah patung kucing. Di situ disebutkan satu pesan yang merangkum keseluruhan isi cerita bahwa jika suatu saat kita dihadapkan pada suatu masalah, maka pergilah ke suatu tempat yang misterius untuk menyelesaikannya.... Tempat misterius apakah itu? Mungkin akan terjawab di paragraf selanjutnya.

The Cat Returns

Judul lain : Neko No Ongeashi 
(Balas Budi Seekor Kucing)
Tanggal rilis : 19 Juli 2002
Sutradara : Hiroyuki Morita
Cerita : Aoi Hiiragi
Skenario : Aoi Hiiragi, Reiko Yoshida, Cindy Davis Hewitt, Donald H.Hewitt

Senin, 05 Desember 2016

Review Spirited Away (2001)



Menonton film ini, tak ubahnya mengorek masa lalu yang tak lepas begitu saja dari ingatan. Ya masa dimana kekayaan imaji anak-anak berputar memenuhi otak. Saat-saat dimana alam liar kami sebagai anak-anak membawa kami kepada keajaiban-keajaiban cerita yang tercurah lewat dongeng-dongeng fantasi. Pun demikian saat menonton ulang Spirited Away karya Mangaka kenamaan Hayao Miyazaki, rasanya menonton dengan penuh kepolosan seperti ini adalah bentuk kenikmatan tersendiri dari kegiatan menonton film. Sekali lagi, karya Miyazaki mana coba yang nggak sukses membius penontonnya? Rasanya hampir semuanya bahkan bersifat masterpiece bukan?

Mungkin sinopsis berikut akan sangat spoiler karena jujur untuk cerita yang sangat aku sukai, aku merasa lebih senang menulisnya lengkap. Terasa plong saja bagiku untuk mengulasnya demikian, selain untuk mengingat-ingat saat akan menonton lagi, juga membuktikan bahwa aku memang salah satu pecinta garis keras karya-karya Godfather Animasi, Hayao Miyazaki.

Senin, 28 November 2016

Review Bram Stoker's Dracula (1992)



Untuk kesekian kalinya menonton film ini dan tak ada kata bosan meski sudah hafal di luar kepala. Bram Stoker's Dracula (1992) dengan art classy wardrobe pemainnya  jelas membuat betah untuk menyelesaikannya  selama 2 jam 7 menit ke depan. Ya, meski dengan tema cerita yang bisa dibilang simple tanpa direcoki oleh konflik rumit yang bertele-tele. Apalagi dengan bertaburnya bintang-bintang Hollywood macam Winona Ryder (Mina/Elisabeta), Keanu Reeves (Jonathan Harker), Gary Oldman (Drakula), Sadie Frost (Lucy Westenra), dan Antony Hopkins (Van Helsing) jaman muda, dijamin film ini bakal jadi daya pikat tersendiri bagi salah satu penggemar film klasik khususnya genre horror semi romance.

Minggu, 27 November 2016

Review Return To Oz (1985)



Menikmati fantasi klasik bikinan Disney selalu menjadi energi baru bagi penulis. Meski dari segi teknologinya tentu jauh berbeda dengan sekarang. Yang ingin penulis tekankan adalah dari segi ‘greget-nya’. Bahwa sebenarnya generasi penonton film anak pada masa itu pengen bilang : “Eh sekuel pertamanya itu selalu lebih nendang loh”. Istilahnya seperti dibawa ke kejayaan masa lalu dimana tontonan jaman itu tumbuh subur memenuhi layar kaca, bahkan sampai rela menunggu antrean putar tiap kali libur hari besar. Return to Oz (1985) contohnya. Ya, walaupun sebenernya bukan yang paling tua juga sih mengingat masih ada Wizard of Oz (1939) juga. Tapi nggak tau deh, untuk Return To Oz buat aku feel-nya lebih dapet. Film yang rutin diputar tiap kali libur caturwulan (SD) ini—nyatanya tetap membuat penulis terpesona akan acting natural dari para pemainnya. Dalam hal ini Fairuza Balk cilik (pemeran Dorothy Gale) dan teman-teman ajaibnya di Negeri Oz. Untuk mengingat sejenak bagaimana kisahnya, simak sinopsinya berikut ini.