Senin, 28 November 2016

Review Bram Stoker's Dracula (1992)



Untuk kesekian kalinya menonton film ini dan tak ada kata bosan meski sudah hafal di luar kepala. Bram Stoker's Dracula (1992) dengan art classy wardrobe pemainnya  jelas membuat betah untuk menyelesaikannya  selama 2 jam 7 menit ke depan. Ya, meski dengan tema cerita yang bisa dibilang simple tanpa direcoki oleh konflik rumit yang bertele-tele. Apalagi dengan bertaburnya bintang-bintang Hollywood macam Winona Ryder (Mina/Elisabeta), Keanu Reeves (Jonathan Harker), Gary Oldman (Drakula), Sadie Frost (Lucy Westenra), dan Antony Hopkins (Van Helsing) jaman muda, dijamin film ini bakal jadi daya pikat tersendiri bagi salah satu penggemar film klasik khususnya genre horror semi romance.


Bram Stoker’s Dracula
Sutradara : Francis Ford Coppola
Skenario : James V.Hart
Pemain :
Gary Oldman (Drakula)
Winona Ryder (Mina/Elisabeta)
Keanu Reeves (Jonathan Harker)
Sadie Frost (Lucy Westenra)
Antony Hopkins (Van Helsing)

Dikisahkan pada tahun 1462, seorang prajurit Romania ditugaskan ke medan perang untuk membela agamanya melawan Turki Konstantinopel. Prajurit tersebut bernama Vlad Dracula. Ia berpamitan kepada istrinya yang cantik jelita bernama Elisabeta, meski dengan keputusan yang cukup berat. Elisabeta sendiri menciuminya sebelum pergi dan tak ingin suaminya pulang tinggal nama. Melihat hal ini, Dracula pun bersungguh-sungguh untuk sesegera mungkin menyelesaikan kewajibannya hingga bisa cepat-cepat menemui kekasih hatinya. Benar saja, dalam perang tersebut, ia berhasil menumpas banyak musuh dengan cara menancapkan jantung-jantung mereka ke ujung tombak. Sayang, perjuangannya ini harus dimanipulasi oleh salah seorang musuh perangnya. Seorang prajurit Turki kemudian mengelabuhi Elizabeta dengan cara mengirimkan surat palsu berisi kematian Dracula. Mendengar hal itu, Elizabeta merasa sangat terpukul dan tidak tahu lagi harus berbuat apa tanpa suaminya. Ia pun memutuskan untuk bunuh diri dengan jalan terjun dari menara. Hal inilah yang membuat Dracula murka sepulangnya dari perang dan bertekad untuk berada di jalan yang berlawanan dengan keyakinan yang dibelanya selama ini begitu istrinya menjadi korban konspirasi. Bersamaan dengan kemarahan Dracula, patung-patung yang berada di sekitar kapel tempat jenazah istrinya disemayamkan kemudian mengeluarkan darah yang kemudian diminum olehnya sambil merapal kutukan.

Waktu berlalu hingga memasuki tahun 1897. Di belahan bumi lainnya, Jonathan Harker harus meninggalkan London untuk memenuhi undangan kliennya Count Dracula di kastilnya yang bertempat di Transylvania (Eropa Timur). Kabarnya kliennya ini ingin dilancarkan pengurusan surat ijin usahanya mengingat profesi Jonathan yang menjadi notaris. Karena tugasnya ini, ia terpaksa menunda pernikahannya dengan Mina, sang kekasih hati (yang kebetulan mukanya sangat mirip dengan mendiang istri Dracula). Mina mengijinkan Jonathan pergi meski dengan berat hati sehingga setiap kali kangen, ia hanya mampu mencurahkan perasaannya lewat diary.

 

Di lain tempat, di sebuah rumah sakit jiwa, seorang pasien bernama Renfield meracau hebat bahwasannya sebentar lagi akan ada hawa jahat datang ke kota. Entah hawa jahat apa yang dimaksud, yang jelas setelah ditelusuri, pasien tersebut baru-baru ini telah melakukan perjalanan bisnisnya ke Transylvania. Namun setelah pulang, bukannya pekerjaannya semakin lancar, malah kejiwaannya menjadi terganggu.

Kembali kepada perjalanan menuju tempat yang paling liar di belahan Eropa Timur. Kereta Jonathan kali ini sudah memasuki terowongan yang bersisihan dengan jurang dan Pegunungan Charpatian. Sambil menunggu, ia membaca surat dari Count Dracula yang amat sangat menantikan kehadiran dirinya. Meskipun terbersit sedikit rasa aneh, namun Jonathan tetap memenuhi permintaan kliennya ini demi rasa profesionalisme. Ketika kereta sampai pada tujuan terakhir, Jonathan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta kuda. Namun belum sampai separoh perjalanan, tiba-tiba kusir menghentikan kereta kudanya dan mempersilakan Jonathan untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta yang lain. Ia berdalih bahwa tugasnya hanya mengantarkan sampai sini. Padahal jika dilihat-lihat lagi, perjalanan masih cukup  jauh. Di depan sana, hutan gelap menyelimuti—lengkap dengan lolongan serigala yang bersahut-sahutan. Sebagai bentuk simpatinya, wanita seperjalanannya kemudian memberikan Jonathan salib untuk berjaga-jaga jika ada apa-apa di depan sana. Dari sinilah, akhirnya ia mulai merasa heran.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya kereta kuda berikutnya datang lagi. Namun kali  ini kereta kuda yang dimaksud seperti berjalan mengawang (dengan adegan slow motion). Kusir yang menutupi wajahnya dengan topeng akhirnya memperlihatkan jari-jarinya yang runcing (seperti monster), lalu membawa Jonathan untuk segera masuk ke dalam kereta. Jonathan pun bertanya, apakah kastil yang ditujunya sudah kelihatan dari sini? Namun sang kusir diam saja, sementara saat melongok ke jendela, ternyata mereka sedang melintasi pinggir jurang yang sangat curam. Dari situ ia seperti melihat ada cahaya biru yang membentengi area menuju kastil.

Beberapa lama setelahnya, Jonathan sampai di depan kastil Count Dracula. Ia masuk melalui pintu depan dan langsung disambut oleh bayangan yang tadinya besar sekali, lalu tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang kakek berkulit pucat dengan gelungan rambut pirang menyerupai dandanan bangsawan jaman dulu. Gaunnya juga sangat klasik dengan jubah menjuntai menyapu ruangan. Warnya merah terang. Kakek tersebut mempersilakan Jonathan untuk makan malam dan minum wine sementara dirinya mengatakan sudah bersantap sebelum ia datang (tapi dengan intonasi agak aneh karena ia mengaku tidak pernah minum). Saat melihat ke sekeliling area, mata Jonathan terpaku pada lukisan seseorang (yaitu Vlad Dracula muda) yang terpajang di dinding. Count Dracula kemudian menceritakan gambar yang ada di dalamnya adalah kakek moyangnya, the order Dracula, The Dragon. Masyarakat kuno menjamin bahwa pendahulunya itu berjuang membela keyakinannya demi gereja. Namun hubungan mereka pada akhirnya berakhir buruk, karena suatu hal. Jonathan mengira hal tersebut hanya humor semata. Ia lalu tertawa kecil, dan menyebabkan perangai asli Count Dracula muncul. Tiba-tiba pria berkulit pucat itu mengelurakan pedangnya dan mengarahkannya ke leher Jonathan. Dia merasa tersinggung sehingga Jonathan akhirnya meminta maaf (walau sebenarnya dalam hati bingung dengan karakter kliennya yang serba spontanitas itu). 

Setelah emosi Dracula reda, secara tak sengaja ia melihat foto Mina di meja Jonathan. Ia langsung terkejut karena Mina sangat mirip dengan mendiang istrinya. Saat itulah, Jonathan bertanya apakah Drakula menikah. Dijawabnya,  iya, namun satu kali, dan istrinya telah berpulang dalam usia yang sangat muda. Dracula pun menangis tersedu-sedu hingga lagi-lagi membuat Jonathan merasa aneh dan penuh dengan tanda tanya besar. Sementara jika kita melihat ke belakang dinding, bayangan Dracula sama sekali tidak mengikuti badan aslinya.
Di ujung tempat yang lain, Mina yang menahan kesepian akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama Lucy, sahabatnya yang memiliki sifat amat bertolak belakang dengan dirinya. Jika Mina memiliki perangai kalem, maka Lucy adalah sebaliknya. Gadis berambut merah itu memiliki fantasi liar dan sanggup melakukan flirting dalam satu waktu pada banyak lelaki. Pernah suatu kali Mina mendapati buku bacaan Lucy yang membahas tentang gaya bercinta Arabian Night. Saat kepergok, Lucy langsung meledek kawannya itu supaya lebih agresif seperti dirinya.


Back to kastil Dracula, suatu malam Jonathan sedang bercukur janggut. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh tangan Count Dracula yang menepuk punggungnya. Saat menoleh, kakek tua itu justru berada di depan pintu. Karena keterkejutannya itu, leher Jonathan akhirnya tergores pisau cukur. Saat itulah Dracula mendekat dan dari belakang menghisap goresan darah di pisaunya. Lalu ia menanyakan apakah surat-surat adiministrasi yang dimintanya sudah dikerjakan? Jonathan menyerahkan hasil kerjanya. Setelah itu Dracula mewanti-wanti, agar Jonathan jangan sampai tergoda untuk tidur di bagian kamarnya yang lain di kastil itu. Karena bangunannya sangat tua dan mengingatkannya pada kenangan buruk. Saat memberi peringatan itu, tiba-tiba mata Drakula menangkap salib yang tergantung di leher Jonathan.Ia kaget, dan menghardik Jonathan bahwa ia tidak perlu mengenakan itu karena ini adalah Transylvania, bukannya London. Jonathan pun kesal, lalu mengatakan kalau lawan bicaranya itu sangat aneh. Apalagi di luar sana, ia mulai mendengar lolongan serigala yang bersahut-sahutan. Melihat hal itu, Dracula malah tertawa-tawa dan mengatakan bahwa suara serigala merupakan musik yang sangat indah. Setelahnya Dracula pergi, dan begitu melihat jendela, Jonathan melihat Dracula merangkak ke arah dinding seperti mahluk aneh penghisap darah. Ia lantas mencoba menjelajahi seisi kastil dan tak mengindahkan ucapan Count tadi. Ia tidur di ruangan yang lain karena mendengar bisikan seorang wanita. Saat itulah mahluk-mahluk Count Dracula berebut untuk menyentuh Jonathan meski akhirnya dihardik oleh Count Darcula.

Surat kemudian datang ke London dan mengabarkan keadaan Jonathan dengan kalimat yang sangat singkat. “Aku tidak bisa berkata banyak, kecuali aku mencintaimu. Tertanda Jonathan.” Dan Mina pun menjadi khawatir karena tak biasanya ia mendapatkan surat yang begitu singkat seperti ini. Jonathan lalu menyelidiki bisnis apa yang sebenarnya diusahakan oleh Count Dracula.Dengan mengendap-endap, ia menyelinap kegudang dimana bahwa selama ini Count Dracula ingin meresmikan usaha pengiriman barangnya yang dikirim berbox-box melalui kapal menuju London. Isinya sangat mencurigakan karena ditimbun bersamaan dengan tanah. 

Sementara itu, di tempat lainnya, Lucy mengabarkan kebahagiaannya setelah dilamar tuan muda kaya raya pada sahabatnya Mina. Namun Mina sedang dalam keadaan bermuram durja akibat ketidakpastian nasib Jonathan di seberang sana. Lucypun menghiburnya sambil mengajaknya berhujan-hujanan di taman untuk menghapus rasa gundah gulana dalam diri Mina.


Malam hari, saat hujan bertambah deras, juga angin yang bertiup kencang , Mina mendapati Lucy yang tak berada dalam ranjang tidurnya. Iapun melihat sahabatnya itu berjalan diantara hujan menuju taman labirin, namun dengan sikap yang cukup aneh. Setelah mengikuti sampai pusat taman, terkejutlah ia karena Lucy tengah bercinta dengan mahluk yang sangat mengerikan, yakni manusia serigala. Setelah kejadian itu, Lucy seperti mendapat penyakit aneh. Wajahnya pucat dan suhu badannya terus naik. Ia juga merasa sering kehausan hingga akhirnya kawan-kawan prianya berlomba-lomba untuk mencari perhatian dengan cara membawa dokter terbaik. 

Sekali lagi, film ini sederhana dengan alur maju yang cukup runtut antara satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Bahkan ending-nya pun bisa ditebak dengan jelas, melalui penyelesaian konflik solutif vampir  yang terdengar klise. Bloking juga bergerak maju tanpa harus sering-sering menoleh ke adegan sebelumnya. Namun di sini yang ingin penulis soroti adalah, ada kesan lain yang tak melulu membahas cerita. Karena terus terang penulis lebih tertarik dari sisi pewatakan. Pewatakan di sini terlihat menonjol jika dilihat dari segi gestur pemain, pantomimik, skeneri, dan juga kostum. Gestur, pantomimik, serta kostum dari beberapa tokoh cenderung sukses (bahkan berhasil membuat penonton tak langsung lupa setelah menontonnya dalam sekali waktu). Tokoh Dracula tua dan vampir Lucy terutama. Keduanya berhasil menciptakan semacam emosi yang khas di setiap gerak-geriknya yang klasik namun juga tidak bisa dibilang tidak menakutkan (terutama ketika Dracula berada dalam jubah merah dan dandanan pucat serta rambut khas kejayaan Napoleon Bonaparte dengan bayangan yang secara spontan menciptakan gerak-gerik aneh). Lalu Lucy, tokoh ini juga terlihat sangat mencolok dengan cara yang luar biasa menakutkan dalam busana serba putih (namun tertutup) saat-saat upacara persemayamannya sebelum akhirnya ditikam bagian jantungnya, hingga kepalanya ikut putus. Untuk skeneri, bisa aku katakan lumayan serius ya penggarapannya, karena berhasil menggambarkan setting London dan Transylvania tua yang begitu magis. Ini terlihat saat tokoh berada dalam agedan kastil tua, taman labirin, dan juga pemakaman Lucy. 


Adapun untuk tokoh utama, yang sebenarnya lebih mengarah ke Dracula-Mina (Elisabeta), ketimbang Jonathan-Mina, rasa-rasanya penulis seperti disuguhi percintaan klasik khas cerita Shakespeare yang sebetulnya never dies (seperti taglinenya), namun tetap harus berakhir tragis. Meski demikian, film ini menawan dengan sentuhan klasik yang sejatinya hampir menyamai saat kita berimajinasi lewat bukunya. Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi.

Source pict : Bram’s Stoker Dracula’s Movie


8 komentar:

  1. ini sering tayang di tv dan sering nonton tapi nggak pernah sampek kelar sih nyit habis ngantuk hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nyin, dulu karena pas diputer di tipi seringe jam 12 malem ya jadi bikin ngantuk, kadang sampe pas lucy keluar dari jendela buat ketemu manusia serigalanya juga abis iyu lieur ahahhha

      Hapus
  2. aku pernah nyoba nonton 2x. dan tak pernah nonton dg tenang apalagi sampai selesai.

    ingatnya cuma adegan drakula manjat tembok kastil. udah. itu aja. hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo aku dulu sering ketidurannya abis lucy jalan dalam keadaan tidur dengan background gorden berkibar, terus ketemu manusia serigala

      Hapus
  3. Pernah lihat di televisi nih Nit. Setiap ada tayangan ulang selalu melihat lagi, nggak bosan sama Keanu dan Winonanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mb anjar, dulu seing banget diulang di TV hihi...tapi jam tengah malem gitu

      Hapus
  4. Aku suka dracula versi ini krn darker dari versi2 lainnya dan yg hampir mendekati versi bukunya. Tp di buku Mina sama sekali gak pernah jatuh cinta sama Dracula jd agak melenceng dikit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mb ri, aku baca bukunya pas SMP, agak beda cz mina teteup bertahan setia dengan si keanu reeves :D

      Hapus