Minggu, 27 November 2016

Review Return To Oz (1985)



Menikmati fantasi klasik bikinan Disney selalu menjadi energi baru bagi penulis. Meski dari segi teknologinya tentu jauh berbeda dengan sekarang. Yang ingin penulis tekankan adalah dari segi ‘greget-nya’. Bahwa sebenarnya generasi penonton film anak pada masa itu pengen bilang : “Eh sekuel pertamanya itu selalu lebih nendang loh”. Istilahnya seperti dibawa ke kejayaan masa lalu dimana tontonan jaman itu tumbuh subur memenuhi layar kaca, bahkan sampai rela menunggu antrean putar tiap kali libur hari besar. Return to Oz (1985) contohnya. Ya, walaupun sebenernya bukan yang paling tua juga sih mengingat masih ada Wizard of Oz (1939) juga. Tapi nggak tau deh, untuk Return To Oz buat aku feel-nya lebih dapet. Film yang rutin diputar tiap kali libur caturwulan (SD) ini—nyatanya tetap membuat penulis terpesona akan acting natural dari para pemainnya. Dalam hal ini Fairuza Balk cilik (pemeran Dorothy Gale) dan teman-teman ajaibnya di Negeri Oz. Untuk mengingat sejenak bagaimana kisahnya, simak sinopsinya berikut ini.


Return to Oz 
Tanggal rilis : 21 Juni 1985 (Amerika)
Sutradara : Walter Murch
Cerita : Lyman Frank Baum
Anggaran : 25 juta USD
Skenario : Walter Murch, Gill Dennis 
Pemain : Fairuza Balk (Dorothy Gale)
Nicole Williamson (Dr. Worley/Nome King)
Jeane Marsh (Ratu Mombi/Suster Wilson)
Piper Laurie (Bibi Em)
Emma Ridley (Princess Ozma)

Enam bulan sekembalinya dari Oz, Dorothy sering mengalami insomnia (susah tidur). Setiap malam, ia selalu terkenang akan sahabat-sahabatnya yang beraneka ragam sifat maupun latar belakang seperti singa, Scarecrow, dan Thin Men. Ia hanya bisa curhat pada Toto anjingnya karena tidak ada yang mempercayaiceritanya selama ini, termasuk juga Paman dan Bibinya. Bibi Em justru mengkhawatirkan kondisinya dan berpikir mungkin ada kaitannya dengan gangguan psikologis. Maka suatu kali terpikirlah ia untuk membawa keponakannya itu ke tempat terapis listrik yang berpraktik di kota. Saat merundingkan hal ini, dari arah jendela terlintaslah cahaya meteor dalam sekejap yang membuat Dorothy membatin bahwa ia sangat ingin bertemu dengan sahabat-sahabatnya di Oz. 

Keesokan paginya, Toto sang anjing mengusik keberadaan Billina, salah satu ayam piaraannya di peternakan. Dorothy lantas menghampiri Billina dan menanyakan apakah hari ini ia bertelur. Lalu diceknyalah kandang Billina dan tanpa sebab musabab yang jelas, Billina malah menyorongkan sebuah kunci dengan paruhnya. Dorothy terkejut. Ia membersihkan kunci tersebut dan berpikir mungkin ini kunci untuk kembali ke Oz. Ia lalu berlari kegirangan kearah Bibi Em untuk memperlihatkan temuannya. Namun sayang, Bibi Em masih kukuh mengira bahwa keponakannya itu berhalusinasi. Ia malah menyuruh Dorothy untuk bergegas ikut dengannya menuju kota dan menemui terapis listrik pilihannya.


 
Sesampainya di tempat terapi, Dorothy mencoba menceritakan kembali pengalamannya saat singgah ke Oz sebagai bentuk konsultasi dengan dokter. Sang dokter mendengarkan dengan seksama, begitu pula dengan Bibi Em. Namun keduanya tetap saja tidak percaya apakah cerita tersebut nyata atau hanya khayalan belaka. Atas rekomendasi dokter, Dorothy diwajibkan rawat inap karena berdasarkan analisanya, gadis berkepang dua itu sudah mulai mengidap gangguan jiwa. Rencananya, malam ini ia akan dikenai tindakan khusus dengan menggunakan alat-alat listrik yang telah diciptakannya. Saat mencoba memamerkan salah satu alatnya itu, Dorothy maju dan mengamatinya dengan seksama. Tanpa sengaja ia melihat bayang-bayang seorang gadis yang terpantul dari kaca alat tersebut. Saat menoleh, bayangan tersebut sirna bersamaan dengan nasihat Bibi Em supaya keponakannya patuh pada dokter dan suster yang ada sebelum akhirnya pulang mengendarai kereta kuda.

Sebenarnya Dorothy merasa tempat terapi ini cukup aneh. Salah seorang dari mereka, yakni wanita bergaun hitam yang bertugas sebagai suster tampak memiliki wajah yang mengintimidasi atau istilahnya memancarkan aura kekejaman. Buktinya ia langsung mengurungnya di dalam kamar dan mencegahnya keluar sebelum dipanggil. Saat hal-hal aneh mulai merasuki, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan gadis tadi. Gadis itu datang dan memberikannya sebuah labu hias yang sudah dibentuk bagian mata dan mulutnya. Ia serta bertanya : “Mengapa mereka membawamu kemari?” Dorothy berkata : “Karena aku susah tidur. Mereka berpikir aku berhalusinasi tentang ceritaku saat pergi ke Oz.” Namun belum sempat ditimpali oleh lawan bicaranya, tiba-tiba pintu diketuk oleh suster bertampang dingin itu. Si gadis misterius tadi cepat-cepat pergi. Sebagai gantinya, suster itu masuk dan menggiring Dorothy untuk rebahan di atas kereta dorong sambil kedua tangannya diikat. Ia didorong ke ruang tindakan karena selanjutnya akan dialiri listrik. Saat sang dokter akan mengutak-atik alatnya, seseorang tiba-tiba dengan sengaja mematikan sekering. Keadaan kemudian berubah menjadi gelap gulita. Dokter dan asisten pun pergi sejenak untuk menyalakan generator. Mereka meninggalkan Dorothy sendirian di atas dengan alat listrik yang masih terpasang sementara guntur di luar sudah menyala-nyala. Saat itulah si gadis misterius tadi membebaskan Dorothy dan mengajaknya kabur. Saat hendak lari dan menuju pintu, di tengah tangga mereka tertangkap basah oleh suster tadi. Karena panik,a khirnya mereka tetap nekad lari meski harus menerobos hujan badai di luar sana hingga akhirnya mentok sampai ke sungai. Si gadis misterius itu tetap mendorong Dorothy agar jangan sampai tertangkap si suster dan terjun saja ke dalam sungai. Akhirnya keduanya hanyut terbawa arus yang cukup deras meski akhirnya tertolong oleh kotak kayu bekas yang mengapung menuju muara.


Keesokan harinya, sesuatu yang ajaib terjadi pada Dorothy. Gadis yang semalam mengajaknya kabur hilang dari dalam kotak kayu yang mereka naiki. Sebagai gantinya, Billina si ayam betina malah membangunkannya dengan suara manusia. Dorothy terkejut, ia merasa semakin aneh karena sungai yang semalam ia arungi kini berubah menjadi genangan air dengan batu-batuan besar di sekitarnya. Ia dan Billina sepakat mengira bahwa, ya ! Mereka telah kembali ke Oz. Karena saking gambiranya, keduanya langsung keluar dari kotak kayu dengan menginjak bebatuan yang ada di sana. Mereka tak sadar batu-batu itu hidup dan menjadi mata-mata dari sesuatu hal yang sedang mengutuki keindahan Negeri Oz.

Dorothy dan Bilina kini tiba di sebuah padang rumput hijau dengan buah-buah kaleng yang bergelantungan. Billina menyarankan Dorothy untuk mengambil 2 buah kaleng dan membukanya. Mereka terkejut karena isinya ternyata sarapan ham dan juga sandwich. Merekapun duduk sejenak untuk melahap itu semua sebagai bekal perjalanan selanjutnya. Setelah sarapan, mereka menuju hutan dan mendapati sebuah rumah berdiri di sana. Saat mengintip ke dalam jendela, rumah tersebut tampak berantakan dan seperti tidak berpenghuni. Dorothy merasa hal ini aneh karena tiba-tiba jalanan yang tadi ia pijak pun tau-tau berubah jadi berantakan seperti terkena sihir sesuatu. Mereka lantas ingin memastikannya dan menuju ke kota.


Di kota, keadaan malah semakin runyam. Tak ada satu kehidupan pun di sana. Para warga disulap menjadi patung. Bahkan wanita yang biasanya menari melingkar taman diambil pula bagian kepalanya entah untuk apa. Ketika melewati beberapa sudut lagi, Dorothy sangat terkejut karena Thin Man dan Singa sahabatnya juga ikut dikutuk menjadi batu. Ia pun merasa sangat sedih dan bertekad ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kota ini.

Ketika sedang berdiskusi dengan Billina, tiba-tiba ia melihat salah satu puing yang bertuliskan peringatan : “Hati-hati dengan para Wheeler!” Namun sepertinya hal tersebut terlambat, karena tahu-tahu ia sudah  dikepung oleh para Wheeler sehingga mengharuskan mereka untuk cepat-cepat kabur ketika menemukan sebuah bangunan tua. Sialnya, ia harus menemui jalan buntu. Mereka kepepet ke satu tembok. Untunglah,  Billina tak kehilangan akal, disuruhnya Dorothy untuk membuka pintu tembok tersebut dengan menggunakan kunci yang mereka temukan kemarin. Cara itu ternyata berhasil. Para Wheeler hanya bisa mengancam dari balik lubang kunci. Katanya : “Akan kubawa kau Dead Dessert agar menuju kematian! Apakah ayam itu masih ada bersamamu?” Dorothy menjawab iya, lantas kenapa. Disebutkanlah bahwa ayam adalah binatang terlarang ketika memasuki wilayah Nome King. Tapi para Wheler masih belum lengkap menyebutkan Nome King itu siapa, dan apa yang telah diperbuatnya saat ini. Mereka tetap bersabar dengan menunggu Dorothy dan Billina keluar dari balik persembunyian.


Di dalam persebunyian itu, Dorothy dan Billina malah menemukan robot kaleng yang umurnya sudah tua. Dorothy mencoba memutar sekrupnya dan berpikiran siapa tahu masih bisa jalan. Setelah diakali dengan beberapaputaran, berhasil! Robot tersebut menjadi hidup. Si Robot kemudian memperkenalkan diri sebagai Tic-Toc salah satu tentara Oz. Ia merasa beruntung tidak dikutuk jadi batu seperti yang lain karena berasal dari logam. Lalu Tic-Toc bertanya bagaimana mereka bisa sampai di sini. Lalu dijawablah, karena menemukan kunci dari Billina. Tic-Tocpun segera menyapa Billina sebagai Miss Hen dan menyimpulkan bahwa mungkin Scarecrow yang memberikan petunjuk tersebut supaya mereka datang ke Oz dan menyelamatkan kota dari ancaman penyihir jahat. Dari situ akhmereka bertiga sepakat keluar dari persembunyian dan mencari tahu apa yang terjadi. 

Saat sampai di jalan, gerombolan Wheeler masih mengganggu. Namun dengan tangkas, tangan mesin Tic-Toc membabat mereka satu-persatu dan berhasil menyeret seorang Wheeler untuk menceritakan apa yang tengah terjadi sebenarnya. Lalu dikatakanlah bahwa Nome King telah menguasai kota dan mengutuk semua orang menjadi batu. Jika mereka ingin menemuinya, mereka harus berjalan melintasi Dead Desert untuk mencapai Pegunungan dimana istananya berada. Namun sebelum setuju ke sana, Dorothy mencoba menanyakan keberadaan Scarecrow. Mendengar hal itu Wheeler seperti ketakutan dan menyebutkan bahwa yang ia cari, jawabannya bisa didapat dari Ratu Mombi yang terkenal dengan  kekejamannya.

Tic-Toc, Dorothy, dan Billina akhirnya menuju ke Istana Ratu Mombi. Saat memasuki ruangan istana, mereka melihat seorang wanita tengah duduk di singgasana sambil memainkan alat musik. Dorothy mencoba menyapa : “Permisi, apakah Anda yang bernama Ratu Mombi?” Lalu dengan sifat angkuhnya, wanita itu mengulurkan tangan sambil minta tolong dibantu berdiri. Dorothy kembali bertanya : “Apakah kami bisa bertemu Scarecrow?” Sebelum menjawab pertanyaan itu, Ratu Mombi malah mengajak Dorothy ke satu tempat,yang merupakan ruang rahasianya. Di sana ia melihat koleksi kepala Ratu Mombi yang berderet-deret dipajang di almari kaca (dengan berbagai bentuk wajah dan gaya rambut). Dorothy cukup kaget melihat itu semua. Apalagi saat Ratu Mombi mengganti kepalanya dengan yang lain dan berkata : “Wajahmu memang tidak terlalu cantik, berbeda dari yang lain. Tapi suatu saat nanti pasti akan berguna sebagai penggenap salah satu koleksiku ini.” Dorothy ketakutan dan berusaha keras menolak. Mendengar hal itu, sang ratu pun murka dan membawa Dorothy dan Billina ke kamar atas untuk dikurung. Sementara itu Tic-Toc ia matikan sekrupnya supaya tidak bisa jalan. Setelah itu, salah satu cermin Ratu Mombi memancarkan bayangan aneh, bayangan seorang gadis yang seperti terjebak ke dalam sana.


Dorothy mengamati kota mati Emerald dari atas kamar, tempat ia dan Billina dikurung. Ia sedih dan berujar andai dirinya bisa terbang, pasti ia bisa kabur dari kekejaman Ratu Mombi. Saat sedang berkeluh kesah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh rintihan seseorang. Ternyata seorang Manusia Labu sedang tergeletak tak berdaya karena tangan dan kaki rantingnya dipatahkan Ratu Mombi. Ia meminta bantuan Dorothy supaya memasangkan kembali tangan dan kakinya itu dengan menggunakan tali. Dorothy menyanggupinya dengan telaten. Manusia labu tersebut lantas memperkenalkan diri sebagai Jack. Ia merasa sedih karena wanita yang ia panggil Mom disihir oleh Ratu itu dan hilang entah kemana. Dari situ ia bertanya pada Dorothy, bolehkah ia memanggilnya Mom? Lantas Dorothy tersenyum dan berkata boleh. Mereka kemudian berdiskusi untuk merencanakan kabur dengan cara membuat kereta terbang. Bagaimana caranya? Kebetulan Ratu Mombi punya serbuk ajaib yang diletakkan di almari kaca tempat kepala-nya yang nomor 31 dipasang. Nah, almari tersebut bisa dibuka dengan menggunakan kunci yang selalu ia pasang di pergelangan tangannya. Maka, saat malam tiba, Dorothy mengendap-endap menuju kamar sang ratu dimana pada saat ia tidur hanya dalam wujud badan saja (tanpa kepala). Sementara itu, teman-teman Dorothy yang lainnya bertugas merakit kereta dengan menggunakan sofa, ranting pohon, daun palem, dan kepala rusa. Saat sudah berhasil membawa kunci yang dimaksud, cepat-cepatlah Dorothy menuju almari kaca nomor 31. Namun karena keteledorannya, tangannya secara tak sengaja menyenggol botol minuman yang ada di dekatnya hingga kepala nomor 31 bangun.Ia berteriak marah dan memanggil-manggil nama Dorothy. Mendengar hal itu, badan yang ada di kamar lantas bangun dan menuju sumber kehebohan yang terjadi. Walhasil Dorothy dikejar sang ratu, namun berhasil kabur dengan kereta rusa yang sudah dibubuhi serbuk ajaib.

Sang ratu marah besar dan memerintahkan para Wheeler mengejar rombongan Dorothy sampai dapat. Para Wheeler pun seakan tak bisa berkutik karena tuannya sudah terkenal dengan kesadisannya. Jika tidak dikerjakan, tentu habislah riwayat mereka. Hingga, sesampainya di atas tanah Dead Dessert, salah seorang Wheeler membeku dan hancur rata dengan tanah.Hal tersebut lantas memmbuat Wheeler lainnya ketakutan dan mundur teratur. Tinggalah kini Dorothy dkk terbang melintasi Dead Dessert dengan aman,sampai akhirnya saat mencapai area pegunungan, kepala Jack jatuh. Dorothy yang setiap kawan mencoba menangkapnya walau malah menyebabkan semuanya ikut terbawa angin dan mendarat ke salju. Namun beruntungnya, tempat mendarat mereka justru tepat di mulut gunung batu, tempat keberadaan Nome King berada. 


Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan mereka ber-5 (dengan Billina yang sembunyi di dalam kepala Jack). Suara tersebut ternyata berasal dari pegunungan hidup yang merupakan jelmaan dari penyihir Nome King. Kata Dorothy, apakah ia bisa bertemu dengan Scarecrow dan Raja tersebut bisa mengembalikan kota Emerald dan para warganya seperti semula? Nome King menjawab, “Apakah kau pikir aku mencuri sesuatu darimu hingga aku harus mengembalikan barang curian tersebut kepadamu. Kalau tidak bagaimana?” Dorothy menjawab : “Kalau tidak aku dan para tentara Oz ini akan memaksamu untuk melakukannya.” Melihat rombongan Dorothy yang tampaknya lebih mirip seperti sirkus, Nome King malah tertawa. Dengan serta merta ia menjatuhkan mereka ke dasar goa. Saat terjatuh itulah ia berkisah : Bahwa sebenarnya para manusialah yang serakah.”Mereka mengambili batu-batu kami untuk dijadikan barang-barang. Jadi merekalah yang pantas disebut sebagai pencuri. Termasuk juga Scarecrow. Kau mau tahu dimana Scarecrow berada sekarang ? Ia aku sulap menjadi salah satu koleksiku di sini.” Mendengar hal itu, Dorothy membantah : bukankah hal itu malah menjadikan batu-batu tersebut memiliki manfaat. Scarecrow bukan pencuri. Dan ia pun menangis tersedu-sedu hingga akhirnya Nome King terhenyak. Dielusnya kepala Dorothy dan anggaplah ini sebuah game. Jika ia berhasil menemukan Scarecrow diantara ratusan koleksinya, maka ia akan membebaskan Kota Emerald dan sahabat-sahabatnya kembali seperti semula. Dorothy setuju. Satu-persatu teman-temannya pun mulai ditantang untuk menebak yang mana Scarecrow diantara ratusan koleksi Nome King yang lain. Mulai dari kereta rusa, Jack, bahkan Tic-Toc,  semuanya gagal menebak dan berubah menjadi koleksi lainnya. Dorothy protes karena Nome King tidak memberitahukan risikonya seperti itu. Namun Nome King malah ngeles, bahwa Dorothylah yang kurang cermat menanyakan aturan main dan risikonya.

 

Tinggallah kini Dorothy sendiri yang harus berjuang menemukan kawan-kawannya yang lain, meski ia juga hanya mengandalkan peruntungan saja. Ketika memejamkan mata dan terarah ke satu benda yang berwarna hijau, ia mengucap kata Oz keras-keras dan berhasil menemukan Scarecrow. Dari situ ia jadi tahu bahwa yang menjadi ciri-ciri dari koleksi jelmaan sahabat-sahabatnya itu adalah benda yang berwarna hijau zamrud. Namun sebelum berhasil menemukan semua, Nome King sadar Dorothy memenangkan game sehingga pada akhirnya ia ingin berbuat curang. Ia tidak mau memenuhi permintaan Dorothy seperti yang dijanjikan pada kesepakatan awal. Seluruh ruangan koleksi tiba-tiba ia guncang-guncangkan supaya pecah sehingga Dorothy dan Scarecrow harus cepat-cepat menemukan Jack,Tic-Toc, dan Bellina.

Nome King juga berencana untuk menelan mereka hidup-hidup sehingga tidak akan ada lagi yang mengganggu rencananya dalam rangka menguasai kota. Pertama ia telah menelan bulat-bulat kursi kereta yang merupakan badan dari si rusa (walau kepalanya masih selamat), kedua ia ingin memakan Jack walau baru seperempat jalan sudah menemui karma. Ia baru menyadari bahwa ada ayam di kepala manusia labu itu dan malah menelurkan sebutir telurke dalam mulutnya. Hal tersebut kemudian menjadikan bola mata Nome King berubah warna menjadi putih secara keseluruhan. Ia lupa bilang bahwa ayam adalah racun buat dia. Dari situ, Nome King kembali menjadi batu (mati) lagi dan rata dengan gunung. Yang tersisa kini tinggal sepatu delima merahnya yang mampu membawa Dorothy dkk kembali ke kota Emerald. 


Pasca kejadian itu, suasana kota kembali seperti semula. Patung-patung kembali ke wujud aslinya masing-masing termasuk pula sahabat-sahabatnya. Dorothy dkk kemudian diarak menjadi pahlawan negeri Oz untuk selanjutnya dibawa menuju Istana. Kali ini ia akan dipertemukan dengan ratu asli Negeri Oz. Dan ratu yang dimaksud ternyata adalah gadis yang ia temui di rumah terapi kemarin. Jadi ia baru sadar bahwa kehadiran gadis itu sangat  berkaitan dengan Oz. Ratu tersebut kemudian memperkenalkan diri sebagai Ozma (yang tak lain adalah wanita yang biasa dipanggil Mom oleh Jack Manusia Labu). Sebagai imbalan atas jasa mereka, Ozma pun mengabulkan apapun keinginan para pahlawannya ini, misal Tic-Toc diganti bodynya menjadi logam baru, Billina dibiarkan menetap sebagai penghuni Oz, Jack bisa berkumpul kembali dengan dirinya, dan  Dorothy—sesuai permintaannya, ternyata ia harus berpamitan dengan sahabat-sahabatnya di Oz karena akan kembali ke Bibi dan Pamannya di Kansas. Selain itu ia juga memohon kepada Ozma untuk mencabut ilmu sihir Ratu Mombi dan Nome King sebagai bentuk hukuman yang setimpal meski dibiarkan hidup.

Well, panjang ya. Begitulah caraku menginterpretasi sebuah film, dengan menjabarkan lengkap bagaimana sinopsisnya. Biasanya sih khusus untuk film-film yang banget-banget aku sukai. Untuk Return to Oz sendiri, sisi paling menariknya adalah bagian karakterisasi tokoh-tokohnya. Entah kenapa setiap aksi (meski keliatan sedikit atau sepele banget), dari tokoh-tokoh yang ada—namun setiap tingkah mereka sekali lagi selalu membuatku layak untuk mengacungkan jempol. Very briliant dengan pendalaman materi yang mumpuni sehingga memberikan gambaran dongeng dalam wujud manusia yang lebih nyata ketika dibandingkan dengan versi bukunya. Billina yang cerewet dan keibuan, Dorothy yang super tangkas dan baik hati, Jack yang penyayang, Rusa yang polos namun selalu memberi manfaat bagi orang banyak, Tic-Toc yang tegas namun berhati lembut, serta perintilan pamungkas seperti sepatu delima merah yang sampai saat ini selalu terkenang-kenang di hati, bahwasannya sepatu ini sbahkan saat itu layak kusejajarkan dengan sepatu kacanya Cinderella. Itu baru segi protagonis. Untuk tokoh antagonisnya, tentu saja mengambil porsi cukup besar untuk diingat-ingat sampai sekarang. Misalnya, Ratu Mombi dengan deretan koleksi kepalanya yang kalau dilihat-lihat lagi malah bikin membatin, “Sial, ini film genre thriller/gore apa fantasi anak-anak sih?” wkwkwk. 

 

Tapi apapun itu, aku selalu dan selalu senang menikmati Return to Oz diulang-ulang-dari awal hingga akhir. Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi.    

Source pict : Returns to Oz Movie

8 komentar:

  1. Lengkap banget mbak ulasannya. Aku kok belom pernah nonton yah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya riz, jadi film Return to Oz ini dulu (jamannnya anak 90-an masih kecil-kecil), sering banget diputer pas libur sekolah

      Hapus
  2. selalu senang baca sinopsis yang detail karena bukan pembenci spoiler
    biarpun udah dpt spoiler tetep aja aku nonton kalau pengen dan penasaran hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nyin, aku suka nulis lengkap emang heheheh

      Hapus
  3. Saya lebih suka membaca cerita film dari awal sampai akhir sehingga nggak penasaran sih Nit. Lebih lega saja karena selesai sekalian. Daripada memendam rasa penasaran hehe..

    Jadi ingat film Alice dan Narnia nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mb..ajaib-ajaibnya mirip mirip dongeng alice :D

      Hapus
  4. Sudah nonton dan baca sinopsis ini tetep aja menarik. Filmnya termasuk thriller untuk kategori anak kali mbak. Lol Habisnya penampakan kepala yang misah gitu lho, syerem untuk kategori Ponakanku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaha iya sik, tapi bagus kok so far buat imajinasi anak anak

      Hapus