Rabu, 01 Maret 2017

Review Only Yesterday (1991)




Only Yesterday

Sutradara : Isao Takahata
Produser : Toshio Suzuki
Penulis : Isao Takahata
Berdadarkan : Omoide Poro-Poro karya Hotaru Okamoto dan Yuko Tone
Cast : Miki Imai, Toshiro Yanagiba, Yoko Honna
Musik : Katz Hoshi
Sinematografi : Hisao Shiraisi
Produksi : Studio Ghibli
Tanggal rilis : 20 Juli 1991
Durasi : 118 menit


Terkadang kita berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa sekarang adalah buah dari pemikiran masa lalu. Pada situasi yang lebih pelik lagi, beberapa dari kita bahkan berpikir : Ah, lebih enak ketika menjadi kanak-kanak saja ketimbang harus menjalani kehidupan di usia dewasa yang begitu monoton. Kurang lebih, benang merah itulah yang coba saya tangkap dari film Studio Ghibli karya Isao Takahata yang berjudul Only Yesterday (1991). Film yang diadaptasi dari manga Omoide Poro-Poro karya Hotaro Okamoto dan Yuko Tone ini memang menawarkan sesuatu yang lain dari biasanya untuk kelas production house animasi kenamaan-Ghibli. Kalau biasanya kita disuguhkan film-film ajaib yang penuh dengan dunia khayal beserta tokoh-tokohnya, maka kali ini tidak untuk Only Yesterday. Film ini murni tentang pencarian makna hidup. Sebuah drama realis, cakupan umur dewasa.

Bercerita tentang Taeko Okajima (disulihsuarakan oleh Miki Imai), film ini memberikan warna baru dengan mengawinkan langsung 2 tokoh yang sama namun berbeda usia dalam slot per slot adegan yang nyaris berbarengan. Satu, Taeko pada saat usia 10 tahun (tahun 1966). Dua, Taeko pada saat pada usia 27 tahun (tahun 1982), dimana dirinya telah menjadi wanita karier yang matang. Sengaja alur dibuat maju mundur oleh Takahata demi mendapatkan chemistry yang kuat antara Taeko dewasa dengan Taeko kecil. Karena sejatinya tokoh utama dari film ini masih dibayang-bayangi kejadian masa lalu, bahkan dengan kadar yang lumayan ekstrem karena pada usianya yang sekarang tak ada satu gairahpun yang terpancar dalam dirinya meski sudah mapan sekalipun. Belum menikah? Bisa jadi, karena pada beberapa scene terlihat raut frustasi (yang dibalut dengan kepura-puraan tameng--saya baik-baik saja) ketika mendapat berondongan pertanyaan dari sanak family yang memaksanya untuk segera melepas masa lajang. 


Untuk melupakan semua beban yang ada, Taeko pun mengajukan cuti selama 10 hari untuk berlibur ke Desa Yamagata (dimana tempat tinggal keluarga kakak iparnya berada). Berlibur di desa ini rupanya telah menjadi semacam goals karena sedari kecil ia selalu iri tiap kali melihat teman-temannya pergi berlibur di rumah nenek yang ada di desa. Sedangkan ia sendiri memang sudah hidup seatap sepenanggungan dengan sang nenek yang notabene bermukim di pusat Kota Tokyo. Jadi desa ini ibaratnya sudah menjadi satu kebutuhan mewah bagi Taeko.

Selama perjalanan menggunakan sleeping train (kereta dengan fasilitas tempat tidur), pikiran Taeko mengawang ke beberapa tahun silam dimana ia masih menjejakkan kaki di bangku SD kelas 5. Dalam benaknya, rasa-rasanya baru kemarin saat ia untuk pertama kalinya makan nanas--oleh-oleh dari sang ayah saat mampir di Ginza, lalu pingsan di pemandian air panas saat berlibur ke Atami, serta ditembak oleh teman lelaki dari lain kelas yang jago baseball. Ia juga ingat dengan detail bagaimana bocah perempuan di kelasnya sedang meributkan peristiwa datang bulan untuk pertama kalinya sehingga berbondong-bondong membeli celana ganti khusus datang bulan yang jadi bagian dari program sekolah, namun pada akhirnya malah bocor ke telinga anak lelaki karena kecerobohan seorang teman. Dikatakan pada masa itu---tentunya dengan pemikiran bodoh ala anak-anak, bahwa haid adalah sesuatu yang memalukan bahkan menular sehingga bagi siapa saja yang ketahuan haid bakal jadi sasaran olok-olok. Sialnya, Taeko yang pada suatu ketika terserang pilek (sehingga diperintahkan ibunya untuk libur kegiatan olahraga) malah disangka haid oleh teman-teman cowoknya. Hal tersebut dipertegas dengan adanya satu teman yang absen olahraga juga mengingat ia sedang benar-benar haid. Alhasil, dari situlah keduanya menjadi bulan-bulanan anak cowok sebagai pasangan yang sedang datang bulan.

Part-part kemalangan juga ditampilkan dengan sangat menyentuh pada film ini. Lebih tepatnya ketika Taeko harus berhadapan dengan sikap keras orang tuanya, pun demikian dengan kedua kakaknya yang bawel. Misalnya, saat ia sedang antusias menceritakan karangannya yang berhasil dipajang di muka kelas dan mendapat pertimbangan oleh Pak Guru untuk diikutkan kompetisi, sang ibu malah memfokuskan diri pada sisa asinan bawang yang tidak ia habiskan di selipan roti tawar sisa makan siangnya. Beliau lantas mengomel dan mengeluarkan perkataan yang cukup menusuk bahwa Beliau lebih senang putrinya jadi tukang makan yang baik ketimbang pintar pelajaran mengarang. Di lain waktu, saat nilai matematikanya anjlok (hanya mendapatkan nilai 25 dari rentang 100--padahal nilai sains sudah mendapatkan nilai B), sang ibu pun tercetus kalimat yang agak menyakitkan hati karena menilai otak Taeko tidak normal mengingat pembagian dalam bentuk pecahan saja tidak becus ia kerjakan. Di sini, Taeko pun harus membuang gengsi untuk diajari oleh kakak nomor duanya yang bawelnya setengah mati dan malah membuatnya semakin frustasi pada pelajaran matematika.


Tokoh ayah juga diceritakan sedikit otoriter karena membelenggu passion utama dari sang putri, meski pada tahap dewasa hal tersebut pada akhirnya cukup dimaklumi. Kisah sedih pertama terjadi saat Taeko ingin sekali dibelikan tas baru seperti yang didapat teman-temannya. Pasalnya, selama ini ia selalu mendapatkan barang bekas dari kakak-kakaknya. Saat keinginan tersebut tidak dituruti, iapun merajuk karena kesal dengan perlakuan menyebalkan kakaknya yang nomor 2--Yaeko, akhirnya sang Ayah malah menamparnya walau dalam keadaan reflek karena menganggap putri bungsunya ini sangat egois. Di lain hal, otoritas tersebut juga dikendalikan oleh sang ayah manakala ia berhasil unjuk kebolehan di drama sekolah hingga nyaris ditawari untuk berlakon di tingkat drama yang lebih tinggi, namun pada akhirnya (lagi-lagi) gagal karena tidak diperbolehkan oleh sang ayah. Kata ayah : “Tidak ada masa depan untuk bisnis drama kelak.” Nah, mungkin memori-memori sedih itulah yang membentuk pribadi Taeko dewasa menjadi lumayan keras (juga sedikit memberontak dari pakem-pakem ketimuran).


Cerita terus bergulir sampai kereta Taeko tiba di stasiun tempat ia berlibur. Di sana sudah ada Toshio, sepupu dari kakak iparnya yang ditugaskan untuk menjemput. Pagi-pagi buta mereka bertolak dari stasiun dengan mengendarai mobil tua kuning untuk menuju rumah nenek Toshio setelah sebelumnya memetik bunga safflower (bunga yang digunakan sebagai bahan dasar perona pipi), meraciknya dari proses fermentasi hingga pengeringan, bertani, memerah susu sapi, dsb. Di sini, penggambaran setting pedesaan yang diciptakan sangat sukses memanjakan mata karena begitu warna-warninya bagai goresan cat air pada selembar kanvas. Takahata rupanya cerdas betul dalam mengeksplore area Desa Yamagata dalam wujud 2 dimensi yang pada tahun 1991-pun terdeskripsikan dengan sangat elok. Bagaimana hijaunya padi yang baru ditanam, rindangnya pohon-pohon di hutan, tanah-tanah desa begitu gembur dan becek berkat guyuran hujan, lautan bunga safflower yang kuning dengan bulir-bulirnya yang demikian indah hingga mengundang para tawon untuk mengecup satu-satu, bahkan sayur-mayur yang digambarkan selintasan nampak begitu cerah seperti tomat, ketimun, dsb. Film ini rupanya tidak melulu soal cerita, tapi bagaimana mengemasnya jauh lebih menarik dari segi visual meski dialog yang tidak begitu banyak cing-cong.


Taeko juga diceritakan makin bersahabat dengan keadaan setelah hampir sepekan berada di desa, khususnya setelah mengenal Toshio yang digambarkan sebagai pemuda desa yang hangat dan mengayomi. Toshio yang lebih muda, nyatanya mampu mengademkan hati Taeko yang cenderung childish, galau, penyendiri, tidak percaya diri, dan selalu berbalik pada kejayaan masa kecil. 

Konflik baru muncul di 38 menit menjelang penghabisan, saat nenek Toshio menyarankan agar Taeko (yang kelihatannya sudah betah di desa) untuk menikah dengan cucunya Toshio. Seperti yang sudah-sudah, (meski jauh dalam lubuk hati yang paling dalam ia mulai tertarik pada Toshio), namun bibir seperti berkata jangan. Taeko masih berusaha mengelak bahwa pernikahan akan membuatnya terbebas dari beban-beban masa lalu. Nah, di sini saya rasa film sudah mulai menunjukkan tanda-tanda 'gregetnya' dimana. Meski sialnya, di detik-detik terakhir Taeko masih saja menyimpan rapat perbincangan dengan sang nenek dari Toshio hingga diantarkan kembali ke kereta terakhir menuju Tokyo. Yah walau sebelumnya sudah sempat curhat juga tentang satu part masa kecilnya yang lain tentang seorang kawan yang ia duga begitu membencinya, namun sebenarnya tidak (berdasarkan analisa Toshio yang lagi-lagi sukses membesarkan hati). Yah, karakter Toshio ini memang disetting sebagai penyeimbang pribadi sang tokoh utama yang rapuh dan butuh perlindungan (sebenarnya namun gengsi untuk mengakui). Bersyukurlah, karena endingnya ditutup dengan manis tatkala Taeko berubah pikiran setelah mendapat pengaruh dari bayang-bayang kanak-kanaknya saat masih SD untuk lebih membuka hati pada sesuatu yang sifatnya menyenangkan di kemudian hari. Bahkan pada lagu penutup digambarkan pula bahwa Taeko akhirnya berlibur ke desa kembali, namun kali ini dengan misi khusus untuk menemui Toshio (meski tidak diceritakan secara detail akan seperti apa rencana-rencana mereka ke depan). Yang jelas film ini penuh dengan makna hidup yang sering pula kejadiannya terjadi di sekitar kita. Benar bukan? 

Adegan yang saya suka dari Only Yesterday :

Saat keluarga Taeko untuk pertama kalinya makan buah nanas. Sekeluarga tampak terlihat bingung karena memang sebelumnya belum pernah menyantap buah tropis ini, sampai-sampai perlu waktu beberapa hari untuk bisa tahu bagaimana cara memakannya. Setelah sukses mengupas, barulah mereka harus menelan kekecewaan akibat rasanya yang kurang bersahabat dengan lidah, sehingga pada akhirnya raja buah tetaplah mereka sematkan pada buah pisang (Saya pikir ini part yang lumayan lucu untuk direnungi, karena meskipun sederhana toh sejatinya memperlihatkan satu nilai culture tertentu pada keluarga Jepang yang membiasakan diri untuk makan bersama, meski hanya makan buah sekalipun. Sangat kekeluargaan sekali bukan? Pesan moral lainnya adalah, jangan mudah terbuai oleh sesuatu yang dari luar kelihatan menarik, tapi ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Begitu pula dengan kehidupan. Silakan artikan sendiri jika ditautkan dengan perumpamaan tadi.


Adegan saat Taeko kecil dijodoh-jodohkan dengan teman dari kelas lain. Kadang semburat merah langsung terpancar pada pipi keduanya hingga bisa dipastikan cinta monyet ini susah sekali untuk dilupakan. Taeko merasa saat-saat itulah dirinya menjadi pribadi yang sangat manis meski dengan kemampuan akademis yang rata-rata air. Taeko dengan rambut pendek dan kulit putihnya yang bak pualam seolah tergerus usia karena menurut pengamatan saya, beda sekali ya antara dia saat masih kecil dengan saat usia 27 tahun. Taeko dewasa ketika tertawa atau tersipu, gurat-gurat di otot pipinya langsung terbentuk dengan sendirinya sehingga membuat karakternya terlihat jauh lebih tua jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya bahkan ibunya pada saat ia masih bocah. Entahlah...

Adegan saat sore-sore sepulang dari pertandingan baseball, dimana anak lelaki yang menaksirnya memanggil dari kejauhan, lalu dengan kode-kode kecil mengisyaratkan bahwa ia suka Taeko. Di sinilah perasaan Taeko langsung melambung setinggi awan dengan digambarkan betulan sedang terbang-terbang diiringi arian dengan ekspresi yang sangat cute. Model penggambaran ini berlaku juga saat Taeko membayangkan dirinya sukses bermain drama dan menjadi bintang meski pada akhirnya harus kandas karena tak mengantongi restu dari sang ayah.

Adegan paling menyentuh sekaligus bikin nyesek adalah saat ia ingin tas baru seperti kakaknya, namun diabaikan oleh orang tuanya, lalu pada akhirnya ditampar karena dianggap egois. Di sini, Taeko seakan meledak emosinya hingga menangis beberapa hari dan sempat membuat saya yang menontonnya ikut teraduk-aduk. Menjadi Taeko dengan latar belakang orang tua yang tak begitu mengerti potensi anak memang kadang menyebalkan, walau tak selamanya hal tersebut salah. Karena bisa jadi itu bukan yang terbaik untuk masa depan sang buah hati.

Terakhir, adegan saat matahari menampakkan batang hidungnya di pertanian bunga safflower yang membuat para petani segera mengheningkan cipta untuk berdoa pada yang Kuasa. Di sini Takahata memperlihatkan adat budaya masyarakat lokal Jepang yang begitu agamis dan sangat arif dalam mengelola alam yang bakal menjadi penghidupannya. Gustyanita Pratiwi

Source pict : Only Yesterday's Movie


20 komentar:

  1. Nonton dimana mbaaak, aku juga pengen lihat nih habis baca sinopsisnya~~
    Ghibli studio emang pancen oye dari dulu ya mbaa 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. lk21 mb klik google langsung ketemu situs streamming page one

      Hapus
  2. Aku ikut merasa kayak jatuh cinta gitu waktu si Taeko dihadang sm cowok kecil yg pinter baseball itu. Hirota bukan ya namanya? Aduh lupa.

    Tapi aku sedih banget pas ibunya marah-marah karena dia ngga habisin roti tawarnya..padahal si Taeko lagi excited banget cerita tentang karangannya yang dipilih untuk dipajang di mading apa majalah sekolah gitu. Lupa.
    Trus pas ayahnya ngga ngijinin dia ikut tampil di panggung drama padahal dia diminta sama artis teater secara langsung. Duuuhh..gemes banget rasanya.

    Tapi film ini jadi bahan belajar buat aku sebagai orang tua. Belajar untuk mendengarkan anaknya. Belajar untuk mengerti passion dan bakat anaknya ada dimana. Gitu deh.. Karena kadang keegoisan orang tua sendiri yang membunuh karakter anaknya secara tidak langsung. :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. samaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaakkkk,
      akhirnya ada yang nonton juga film ini hihi *syenang

      iya aku rada gemes, kenapa karakter bapak ibunya 'dingin' begitu yak
      kebayang, anak pas lagi antusias cerita kepiawaiannya dalam satu hal tapi dicuekin rasane nyesek abis, klo aku mungkin mbrebes mili digituin aaaaarg ahhaha *i'm too sensitif*

      Hapus
    2. Tapi endingnya bagus yaa.. Aku suka banget pas anak-anak kecil mengantar mereka berdua sampe ketemu..hihi..

      Gitu memang. Happiness has nothing to do with money, popularity, big salary, and so on. Kalo hidup di desa dengan segala keterbatasannya bisa bikin bahagia, kenapa tidak? Apalagi di desa si Taeko dapat pengakuan, dapat perhatian. Kan surgaaa... :D

      Hapus
    3. Iyaaa endingnya walau masih bias dan cukup bikin kepo selanjutnya nasib taeko gimana tapi over all aku sukaaaah

      (´⌣`ʃƪ)♡

      Bener bener, aku suka karakter pemuda desanya itu mbak rin, ngemong banget hihi

      Hapus
  3. belum nonton satupun filmnya ghibli :(
    hahahha OMG kudu nyatuin niat
    akhir2 ini nonton drakor melulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton nyin nonton
      *kompor mledug :D

      Hapus
  4. Secara keseluruhan bagus ya Nit meskipun dalam bentuk kartun tapi ceritanya dalam.

    Memang sih pada akhirnya kita harus membuat satu keputusan yang benar, meskipun awalnya gamang karena berbagi alasan. Saya suka endingnya tuh, akhirnya Taeko mau mengakui kata hatinya yang selama ini kadang hanya disimpan dan tidak diutarakan.

    Dan banyak pula orang seperti ini ya, mereka harus disupport dan diyakinkan untuk mengakui kata hati sebelum menyesal nantinya, eaahhh jadi baper sendiri nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak Anjar pesan moralnya tersirat dengan sangat alus dan rapi.

      Iya fokus segmentasi tontonan ini adalah gimana harusnya anak bersikap, orang tua bersikap, juga kita sebagai dewasa secara pribadi bersikap :)

      hihi akupun baper mb nonton film ini :XD

      Hapus
  5. Kasian Taeko... Ya gini, ada anak durhaka sama ortu tapi ada juga ortu durhaka sama anak, jadi bahas giniii gara2 baca buku parenting ������
    Aku Jadi kangen ngartun lagiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak ucig, nyeseg banget jadi Taeko...ortunya agak dingin di sini yang aku tangkep
      Yuk nonton kartun lagie (´⌣`ʃƪ)♡

      Hapus
  6. Oh..film kartun itu ada yang ceritanya bagus gini yaa...
    Ngertiku ki yen film kartun segmen e anak2 thok e Nit.. *sepertinya waktuku terlalu banyak di dapur deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahhaha, sekali kali refresing mb sulis, kartun jepang bagus bagus buat tontonan anak, terutama studio ghibli (´⌣`ʃƪ)♡

      Hapus
  7. Kayanya bagus ya mbul filmyaaa. Mbul ngulasnya lengkao amat siiih. Ntar cari ah film iniii. Makasi reviewnya mbuuulll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masama dian, selamat berburu film (´⌣`ʃƪ)♡

      Hapus
  8. Nita, baca review di atas gua beneran penasaran sama filmnya. Akhirnya, sore tadi gua memutuskan untuk nonton film ini dan baru bisa balik lagi sekarang untuk comment hehe.

    Ghibli's movie is really worth to watch. Film ini ngingetin sama film Indonesia "9 summers 10 autumns" dimana si tokoh utamanya merasa terus diikuti sama ingatan masa kecilnya. Masa kecil si Taeko ini bener-bener membekas hingga dia dewasa, dan emang mau gimana pun, "segala sesuatu yang terjadi pada kita sekarang adalah buah dari pemikiran masa lalu."

    Ah, selalu ada kesan khusus kalo abis nonton film drama menyentuh kayak gini ya Nit. Kasihan Taeko kecil, pas karangannya yang dipajang di kelas "cuma" dapet apresiasi seadanya, juga pas impiannya untuk bermain di pertunjukan drama yang lebih gede dikandaskan orangtuanya. Wow. Kebanyakan orangtua memang kurang bisa melihat potensi anaknya, alhasil anak-anak itu tumbuh tidak dengan passion-nya. Di satu sisi, pasti ada alesan di balik sikap orangtua yang terkesan keras itu. Keunggulan di bidang seni memang seolah selalu diabaikan :(

    Ngga perlu imajinasi berlebih yang fantastis macem "Spirited Away", nyatanya cuma butuh kekuatan naskah untuk bikin film semacem ini melekat di benak. Jalinan kisahnya terasa personal untuk siapa aja, ga terbatas dari negara manapun.

    Intinya, makasih banyak Nit udah rekomendasiin film ini. It's a nice, warm and worth movie to watch :) Also, keep writing like this. Gua suka review-nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaaaa jujurnya komen lo ini sangat bikin gue merasa terapresiasi, thanks anyway bayu...uda tergerak buat nonton film yang gue rekomendasiin terus balik lagi ke sini en meninggalkan komentar yang awesome gini ahahhahaha, gue jadi semangt nulis update blog film ini yang pasti (˘⌣˘ʃƪ)

      Betul banget, selalu ada something yang bikin 'gerrr' abis nonton film studio sang master mangaka asal jepun Studio Ghibli

      Gue bener2 ngerasa gambar2 animatornya ghibli tuh ngegambar dari hati semua, bener bener detil uda gitu ad khasnya sendiri, beda ama yang lain, gue juga selalu suka tiap film film ghibli ngegambarin setting pedesaan yang ijo royo royo gemah ripah loh jinawi, serius indah bangetttt

      Yup, i like your quote, ga perlu imajinasi berlebih sefantastis film ghibli seperti biasanya, film ini punya touching point yang dalem hanya dengan kekuatan naskah, en gambar tentu aja...
      Totally agree bayu \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/

      Hapus